Prince of Scandinavia

 

CERITA SEX GAY,,,,,
Tulisan berikut adalah kisah nyata (kurang lebih 2 tahun yang lalu) yang dialami sendiri oleh penulis yang saat ini tengah bermukim di bagian utara Eropa (Skandinavia) dan menempuh studi. Nama dan lokasi sengaja disamarkan untuk menjaga kerahasiaan.

*****

Blue eyes blue I tought you would be loving me..
I tought you are the one that stays forever..

Itulah sepenggal lirik lagu Eric Clapton. Lagu itu punya arti khusus untukku karena setiap kali kudengar lagu itu, kenangan bersamanya selalu terbayang. Mungkin benar kata orang bahwa cinta tak selalu memiliki, tapi yang pasti dia pernah menempati ruang khusus di hatiku.

“Please pick me up in the bus station on monday at 9 am”, begitulah bunyi e-mail terakhir yang kukirimkan padanya sebelum kami bertemu untuk pertama kalinya, yang segera dibalasnya dengan satu kalimat singkat, “See you on monday at the bus station”.

Hari senin, pagi-pagi benar, kira-kira pukul enam, aku sudah berada di dalam bis yang membawaku ke kota Lein. Dalam hati aku merasa gelisah dan sekaligus penasaran membayangkan apa yang akan kualami nanti saat aku berjumpa dengannya. Jujur saja, aku belum begitu berpengalaman tentang seluk-beluk “dunia kecil” kami ini, dan saat ini pun aku tidak berani mengklaim bahwa di usiaku yang 28 tahun ini aku sudah berpengalaman untuk itu (ha.. ha..).

Sebut saja namanya Henry, pria asli Skandinavia yang masih cukup muda, 22 tahun (kala itu), dengan postur yang cukup “mengagumkan”, 190 cm, mata biru dan rambut pirang keemasan. Kombinasi yang sangat kusukai. Setelah lebih dari tiga jam duduk di dalam bis, akhirnya sampai jugalah aku di Lein. Dengan sedikit terburu-buru aku turun dari bis. Mataku sempat mencari-cari dimana gerangan dia menungguku. Kala itu akhir musim dingin di bulan Februari, dengan suhu sedikit di atas nol derajat dan hujan, sungguh sangat tidak bersahabat untuk berada di luar rumah. Seorang anak muda kemudian perlahan-lahan mendekatiku..

“Peter?” begitu ucapnya dalam nada tanya.
“Yes, Henry?” jawabku sekaligus balik bertanya, dia pun hanya mengangguk sambil menjabat tanganku.

Beberapa saat aku sempat terkesima dan tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, harus kuakui bahwa dalam hati aku merasakan sesuatu yang lain, ya aku telah menyukainya sejak pertama kali kami berjumpa. Kami pun berjalan berdampingan menuju halte bis terdekat untuk menuju apartemen dimana ia tinggal. Tak banyak yang kami bicarakan, hanya sedikit basa-basi.

“Do you feel tired after three hours in the bus?”, tanyanya.
“Yes, but just a little bit” jawabku.

Dia pun sempat menunjukkan kampus dimana dia kuliah di kota itu karena kebetulan bis yang kami tumpangi lewat di dalam area kampus. Lima belas menit kemudian sampailah kami di apartemennya. Ruangan itu tidaklah terlalu besar tetapi sangat tampak asri dan nyaman, terdiri dari satu ruangan utama dengan kamar mandi dan dapur yang letaknya agak sedikit memisah. Letak barang-barangnya cukup teratur, menandakan bahwa pemiliknya cukup rapi.

“Please sit down, you must be tired”, katanya.
“Thanks!”, aku hanya tersenyum sambil menyeret kursi terdekat kemudian duduk di atasnya.
“So how long have you been in this country?”, lanjutnya.
“One and half year”, sahutku.

Sebelumnya dia telah mengetahui sedikit informasi tentangku bahwa aku tengah menempuh studi di negaranya. Kami pun berbicang cukup lama tentang banyak hal, mulai yang umum sampai yang khusus bahkan sedikit menyerempet topik-topik yang sensual. Sampailah kemudian pada pertanyaannya..

“What types of guy do you like?”. Tak segera kujawab, kupandangi dia beberapa detik lamanya sampai akhirnya kujawab dengan jujur apa adanya..
“Tall, blonde and blue eyes, just like you”.

Dia tampak terkejut dan sedikit malu namun tak mengatakan apa pun. Aku beranjak pindah dari kursi, kemudian duduk di tepi pembaringan. Dia memandangku dengan tatapan yang sukar sekali diartikan, tanpa berkedip. Kubalas tatapan matanya beberapa saat lamanya kemudian kuambil inisiatif untuk menawarkannya duduk di dekatku.

“Do you want to sit here next to me?”.
“OK” jawabnya pendek sambil bergerak mendekatiku.

Aku tidak ingat secara pasti siapa yang memulai, karena sesaat kemudian kami sudah berpelukan, pipi kami yang hangat sudah terasa begitu dekat dan dengusan nafasnya kurasakan menyentuh kulit wajahku. Suatu sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kami pun merebahkan tubuh kami di atas tempat tidurnya sambil terus berpelukan. Kutatap lekat-lekat matanya, yang menurutku punya daya tarik yang sangat luar biasa, sampai akhirnya kukulum bibirnya, dan dia tampak menikmati apa yang kulakukan.

Sesaat kemudian pakaian kami pun sudah berserakan di lantai, sehingga setiap inci tubuhnya yang putih dan penuh bulu (kontras dengan kulitku yang mulus dan kuning langsat) dapat kunikmati secara utuh, aku pun tidak tahu mengapa aku sangat menyukai pria berbulu dan bercambang. Tanganku terus bergerilya di sepanjang lekuk tubuhnya, tak terkecuali kejantanannya yang berukuran sekitar 19-20 cm (rata-rata pria Eropa memang punya ukuran kejantanan yang “wow”), putih tegak sempurna, dan terlihat sangat menarik.

Batang itu terasa memenuhi genggamanku yang kemudian kugerakkan naik turun, kadang lambat kadang cepat, yang pasti sampai membuatnya merem melek merasakan sensasi kenikmatan itu. Lama kelamaan aku menjadi gemas juga sehingga kukulum kejantanannya (ini adalah pertama kalinya aku mengulum kejantanan seorang pria). Setelah beberapa saat dia pun bergantian mengulum milikku. Napas kami begitu memburu karena terbakar nafsu, karena ini adalah pengalaman pertamanya dan bagiku itu adalah kali kedua aku bermain cinta dengan seorang pria, jadi bisa dikatakan bahwa kami masih sama-sama “hijau” dalam urusan ranjang dan percintaan sejenis sehingga bisa dimaklumi kalau kami begitu dilanda gairah birahi.

Kuraih lagi batangnya dan segera kukocok-kocok, makin lama makin cepat sampai akhirnya dia melenguh agak keras di puncak kenikmatannya, sambil batang putihnya memuncratkan cairan putih kental, dia pun lalu tersenyum puas.

“That’s nice!” pujinya.

Kali ini diraihnya batangku yang lalu dikocok-kocoknya. Setiap detik kocokannya sangat kuresapi dan kunikmati, sampai aku pun orgasme dan cairan putihku berceceran di perutnya. Kemudian kukecup pipi dan dahinya sebagai pujian untuk “kinerjanya”, dan tak lupa kulumat sebentar bibirnya. Dia hanya pasrah saja di pelukanku. Saat itu aku merasa sangat menyayanginya. Siang itu, jam di dinding menunjuk ke angka dua belas, jam makan siang.

“I know you are hungry, so I will make you something to eat”, tukasnya.
“Do you want to do something tonight? Like to go to cinema?” tanyanya lagi.
“That would be a great idea, perhaps we can have dinner before the movie” sambutku dengan gembira.

Dia menyetujui tawaranku sambil mengawasi makanan yang dimasaknya (supaya tidak gosong tentunya). Perhatian dan kebaikannya inilah yang membuatku menyukainya, bahkan bisa dikatakan bahwa aku telah jatuh hati padanya. Sepiring pasta (makaroni rebus) dan bola daging telah mengisi perutku, beberapa kali kupergoki dia mencuri pandang ke arahku selama aku makan, dia pun hanya tersenyum saja.

Sore pun tiba, kami segera bersiap untuk datang malam itu. Dia sengaja memilih chinese restaurant yang cukup nyaman dengan tata ruang yang apik. Kami memilih tempat duduk di pojok dekat jendela, kebetulan tidak banyak tamu yang datang malam itu. Ditemani nyala lilin di meja, makan malam kami menjadi kian romantis dan aku punya banyak kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat.

Setelah selesai makan, kami segera keluar dan masih punya sedikit waktu untuk berkeliling dan tidak perlu tergesa-gesa menuju bioskop karena tiket telah kami pesan sebelumnya. Henry adalah seorang yang tidak begitu banyak bicara (dan aku pun demikian), sehingga banyak jeda di antara percakapan kami, namun aku berusaha untuk memulai perbincangan tentang topik yang bermacam-macam.

Malam itu kami menyaksikan aksi George Clooney dalam ‘Ocean Eleven’. Film berakhir pukul 11 malam dan kami pun segera pulang ke rumahnya. Kencan malam itu sangatlah berkesan buatku hingga membuatku masih terbawa suasana romantis. Kutatap dalam-dalam matanya tanpa sepatah kata pun, lalu kudekati dan kupeluk dia. Direngkuhnya aku ke dalam dadanya dan kusandarkan kepalaku di sana sambil sesekali diciumnya dahiku.

Malam itu kami pun memadu kasih sekali lagi yang diakhiri dengan tumpahnya cairan putih kental milik kami. Aku terlelap di sisinya tanpa sehelai benang pun melekat. Semalaman aku hampir tak dapat memejamkan mata karena aku tidur di sisi seorang pria yang sanggup membuat hatiku jadi amburadul, sementara ia tampak tertidur pulas. Rasanya tak ada puasnya kupandangi wajah tampan dan tercukur rapi itu sambil kubelai lembut tangannya yang berbulu. Pagi kembali datang, ia bangun lebih dulu.

“Good morning, did you sleep well?” sapanya.
“Good morning, it was quite well” sahutku.

Sesaat kami saling pandang lalu kuambil inisiatif mencium pipi dan lehernya sambil kupeluk dia. Kami hanya bermesraan sesaat tetapi tidak sampai terlalu jauh. Hari itu kami habiskan dengan berkeliling kota. Dengan sabar dan telaten ia tunjukkan tempat-tempat yang mungkin menarik perhatianku termasuk juga kafe tempat dimana kami makan siang berdua.

Hari itu aku senang sekali dan rasanya kami berdua telah lama saling mengenal walaupun baru dua hari kami bersama. Malam itu adalah malam terakhir kami bersama, karena esok paginya aku harus kembali ke kota dimana aku tinggal. Berat rasanya untuk meninggalkannya dan perasaan itu sangat menekanku hingga akhirnya tanpa terasa air mataku meleleh saat wajahku menyentuh pipinya. Ketika dia menyadari sesuatu yang lembab dan basah menyentuh pipinya, dia terkejut sekali dan segera membalikkan badannya ke arahku sambil bertanya dengan air muka yang sangat serius..

“Are you crying? Why?”. Tanpa kujawab pun dia pasti sudah tahu, beberapa saat kemudian aku masih diam, kemudian..
“Are we going to see each other again?” tanyaku.
“Because I like you” imbuhku.

Kulihat wajahnya kembali cerah, mungkin dia sempat khawatir kalau-kalau aku sakit atau semacamnya. Aku juga sempat was-was karena dia tak segera bereaksi, tapi rupanya kekhawatiranku tak beralasan karena sesaat kemudian dia melumat bibirku sambil berkata lirih..

“I like you too”.

Air mataku mengalir lagi tapi kali ini karena perasaan bahagiaku. Dia juga berjanji akan mengunjungiku di kotaku setelah selesai musim ujian bulan depan. Malam itu kami lewati dengan sangat manis. Keesokan harinya ia mengantar keberangkatanku ke stasiun bis. Wajahnya nampak sendu dan sedikit murung, aku pun memakluminya karena aku juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakannya.

Cukup lama kami menunggu kedatangan bis yang akan membawaku ke kota dimana aku tinggal. Kuucapkan kata selamat tinggal untuknya dan dibalasnya lirih dengan kata serupa. Saat aku hendak melangkah menaiki pintu bis, aku sempat terkejut hingga langkahku agak terhenti. Rupanya dia memelukku, sepertinya dia tak ingin melepasku pergi. Aku sangat terharu dan ingin rasanya aku menangis kalau saja aku tak merasa malu. Namun kubiarkan saja hal itu dan kupendam perasaanku. Kuberikan senyum paling manis untuknya dan kutenangkan dia dengan kata-kata..

“I’ll see you soon in Genburg”.

Kunjungannya ke Genburg boleh dikata adalah kombinasi pahit manis, antara cinta, tawa, dan air mata, menggoreskan kenangan yang sangat dalam untuk kami berdua. Aku sempat menangis tersedu-sedu di pelukannya sesaat sebelum dia meninggalkan Genburg.

Singkat cerita, kami sempat jadian tapi tidak berakhir bahagia karena jarak yang jauh dan banyak faktor yang menyebabkan kami tidak bisa bersama. Tentu saja aku sedih dan merasa kehilangan tapi apa mau dikata. Hampir dua tahun lamanya aku tersiksa oleh bayangan dirinya. Setelah putus, kami masih berteman baik dan terakhir kudengar darinya bahwa dia telah menemukan seseorang dan mereka masih bersama hingga saat ini.

Tamat ,,,,,,,,,,,,,,,,,

Related posts